Tafta
dan Tuftu
Karya Skizera Amalia (Rara)
Karya Skizera Amalia (Rara)
Hai nama aku Riska, aku punya
kakak perempuan satu. Dan kali ini ia menjadi monster yang lebih menakutkan
dari biasanya.
Razki Anta Pratiwi, seorang gadis
yang didambakan oleh semua lelaki di dunia ini. Mungkin… Kulit putih bening
dengan badan ideal dan wajah yang jelita, ditambah ramahnya pada semua orang,
ohya satu lagi. Dia selalu dikejar lelaki bila memakai parfum itu.
Aku terlahir saat ka Razki masuk kelas TK
Besar. Kata mama, aku punya yang ka Razki tidak punya. Hanya satu, mata yang
begitu indah. Biru, dan berbeda dari yang lainnya. Ketika aku umur 3, kata mama
aku sering menunjuk kepala ka Razki dan berkata ada peri jahat didalamnya. Tapi
yang dilakukan ka Razki adalah langsung memelukku dan peri jahat itu hilang,
hanya ada peri baik. Aku memang punya kemampuan ini, mungkin karena warnanya
biru ia bisa mendeteksi, tapi aku punya firasat buruk atas kemampuanku.
Beranjak
umurku yang ke 10 tahun, ka Razki menatap benci pada acara ulang tahunku.
Entahlah, itu tatapan yang tidak pernah ia tunjukkan padaku. Aku berusaha
tersenyum ramah dan memeluk ka Razki dengan erat. Tapi tiba tiba ia mendorongku
jauh dan berlari dari rumah. Aku berlari mengejarnya, ia terduduk pada ayunan
di pohon belakang rumah. ‘Kak? Ada apa?’ tanyaku
singkat. ‘ Apa kau tau? Ada peri kecil di
kepalaku, dan mereka selalu bertengkar, rasanya kepalaku akan pecah saja.’ ‘Namanya Tafta dan Tuftu’ lanjutnya.
Tafta adalah peri baik yang selalu membantu ka Razki menyelesaikan masalahnya,
selalu memberi saran terbaik. Berbeda dengan Tuftu yang selalu berfikir akan
kemungkinan terburuk dan seringkali menghasut ka Razki untuk membentak mama
papa dan membuat mereka menangis. Kurasa itu peri yang sama dengan yang kulihat
saat umurku 3tahun. Tafta dan Tuftu mempunyai wajah yang sama persis, yang
berbeda hanyalah warna rambutnya. Tafta mempunyai rambut biru sebiru mataku,
sedangkan Tuftu mempunyai rambut hitam tebal seperti ka Razki.
Tahun
berlalu cepat, ka Razki tumbuh menjadi gadis yang disukai banyak orang. Hingga
ia mempunyai banyak sahabat dan sempat beberapa kali pacaran. Tapi kisah kali
ini akan berbeda, pacar terakhir sebelum kejadian itu dan terkenang bagi ka
Razki. Ka Andre namanya. Bahkan ka Andrelah yang memberikan ka Razki parfum itu. Mereka sering jalan berdua,
pergi menonton, dan kadang membawakan oleh oleh untukku. Tempat favorit mereka
ialah mall. Ka Andre seringkali memberikan kejutan kecil maupun besar untuk ka
Razki. Seperti saat ka Razki berpidato pada perpisahan, ka Andre membawakan
hadiah kecil tapi sangat berkenang. Dan saat ulang tahun Ka Razki, ka Andre
membawa bunga, balon dan mengenakan kostum kelinci yang sangat disukai ka
Razki. Dan Ka Andre selalu menyusul ka Razki jika ia sedang bertualang, dengan
penuh rasa khawatir pastinya. Ka Razkinya malah bandel dan terus mengulanginya,
kata ka Razki ia sangat senang diperhatikan Ka Andre. Aku belum pernah melihat
ka Razki sebahagia ini. Kurasa, Ka Andrelah yang terbaik untuk Ka Razki. Senyum
diwajahnya tak pernah luntur seharipun, sampai satu malam ketika pintu kamar ka
Razki tidak dikunci dan terdengar tangisan tersedu sedu dari dalam.
‘Kakak kenapa?’ tanyaku
serambil menenangkannya. ‘Ternyata aku
udah putus ka..’ jawabnya singkat. ‘Ternyata?’
tanyaku lagi. ‘Iya, aku bodoh banget
sampe ngga sadar udah diputusin hahahaha.’ Tawanya yang keras berubah jadi
tangisan kembali, seolah berusaha menguatkan diri saking tidak percayanya.
Malam
itu tangisan ka Razki menggema ke seluruh lorong, tapi anehnya mama papa masih
tertidur pulas. Hingga pagi tiba, kukira ka Razki akan murung TAPI TIDAK! Tidak
ada bekas tangisan atau mata sembab, bahkan tak terlihat sedih sedikitpun. Ah,
mungkin mood ka Razki sudah membaik..
Hari
hari berlalu, ka Razki kembali tersenyum setiap harinya, tapi ada sedikit
perbedaan. Hari hari dilewati ka Razki tanpa satupun kata atau sosok ka Andre,
dan.. Ka Razki belakangan sering membawa barang aneh ke kamarnya. Tali..
Kursi.. Buat apa?
‘Aku cinta sama kamu dan aku gatau
apa salahku, kalo memang tanpaku kamu bahagia fine aku pergi. Aku hanya akan
memberikan satu kado terakhir, khusus untukmu Andre! Untukmu!’ Sekiranya
teriakan itu membuat satu sekolah mengarahkan pandangannya ke lapangan basket
di siang yang terik itu.
Saat
malam tiba, ka Razki masuk ke kamarnya dengan tergesa gesa. Ia menutup pintu
tapi tak lagi di kunci. Aku dengan langkah yang penasaran mencoba mengintip
dari sela kunci, dan tebak! Aku melihat Tuftu dan Tafta sedang bercanda gurau
tanpa menoleh kearahku. Ka Razkipun mulai memasukkan barang aneh itu kedalam
tasnya, ia seperti menulis sesuatu pada selembar kertas. Tanpa sadar aku
tertidur didepan pintu kamar ka Razki.. sampai mama papa membangunkanku untuk
sekolah. APA?! SUDAH PAGI?! Aku berlari ke kamar untuk mandi dan siap siap
bersarapan. Mata mama sembab dan papa terlihat kebingungan, mereka tak mau
bilang alasannya. Bahkan tak bertanya apapun padaku, kata mama aku hanya
mengigau dan berjalan sendiri depan kamar ka Razki. Mereka akhirnya membuka
percakapan hanya dengan satu kalimat, ‘Kakakmu
hilang tanpa sedikitpun jejak’. Aku berlari ke kamar ka Razki dan mencari
secarik kertas itu dan hasilnya nihil. Tak kutemukan apapun kecuali parfum itu dengan sedikit noda darah
ditutupnya. MAMPUS! Pikiranku sudah kacau, aku akan bolos sekolah dan mencari
ka Razki hari ini juga.
Aku
sengaja memulai pencarian dari sekolah, aku tidak berkata akan bolos pada orang
tuaku. Aku tak mau mereka mengkhawatirkanku. Dari gerbang sampai lorong kelas
orang orang berceceran porak poranda seperti habis gempa, ternyata berita
hilangnya dua orang yang bertengkar kemarin sudah menyebar dan mereka hanya
sibuk membicarakan keduanya tanpa ingin mencari. Aku mulai menyusuri lorong,
memasuki kelas satu persatu, hingga aku menyerah. Mentari sudah tepat diatas
kepala, aku menarik nafas dan berfikir sejenak dimana kemungkinan mereka
melarikan diri… MALL! Tempat itu akhirnya menjadi sasaran keduaku untuk
mencari. Tepat sekali! Aku menemukan mereka sedang berjalan, bergandengan
tangan? Apa? Aku tidak salah lihat kan? Aku berlari sekencang mungkin untuk
menyentuh mereka tapi mereka hanya menoleh dan tersenyum padaku.. Tanpa satu
katapun.. Sekian detik baru ku sadari Tuftu dan Tafta ada diatas kepala mereka.
‘Apa mau kalian?!’ dengan
lantang aku membentak mereka. ‘Oh tidak
apa, aku hanya ingin melihat mereka kembali seperti dulu.’ Jawab tuftu.
Tafta terlihat ketakutan, akupun tak mengerti isyarat yang ia berikan.
Langkahku perlahan menjauhkan diri dari mereka yang terlihat begitu aneh, namun
tiba tiba lampu mall itu mati total. ‘AAAA’
aku seperti tersandung dan ketika aku membuka mata, kutemukan diriku sudah tak
lagi di mall itu, ya.. ini di kamar ka Razki dengan tali digantung dan kursi
kecil yang diduduki ka Andre.
Ka
Razki bercerita bahwa tafta yang membuatnya tersenyum belakangan ini, tapi
aneh.. Tafta terlihat sangat sedih saat itu, berbeda dengan Tuftu yang
tersenyum licik dan menatapku dengan rasa benci. Hatiku ragu bertanya, tapi
selama mereka bahagia, aku bisa apa?
Sekiranya
setahun berlalu, ka Razki masuk rumah sakit jiwa dan ka Andre masuk penjara,
aku tidak sempat bertanya mengenai rencana Tuftu. Tapi aku berhasil menemukan
surat ka Razki, yang ternyata isinya ‘Andai
kau tidak memutuskanku karna berita itu, aku tidak akan melakukan apa yang kau
inginkan Andre! Aku sayang Riska meskipun tak sepenuhnya. Tapi kulakukan ini
untuk membuktikan cintaku padamu.’
Tak sempat aku bertanya pada ka
Razki, hingga kini aku melihat tubuh kaku dengan bekas lilitan di leherku. Tubuh itu
siap di makamkan. Ya, itu Riska. Aku sangat bangga bisa menguasai pikiran
mereka berdua, menyingkirkan Riska yang selalu memanggil Tafta dengan mata
indahnya, kini ia terbaring tak berdaya. Kini tubuh Razki sepenuhnya dibawah
kendaliku. Tanpa tafta maupun Riska. Tanpa Andre dan orang tua yang sok cengeng
itu. Aku kan hanya ingin berteman dengan Razki. Hanya itu, aku tak ingin ia
dengan yang lainnya. Dan aku mendapatkannya sekarang.
‘AAAAAA’ menangis
tersedu dan berteriak, aku kaget bukan main. Itu mimpi terburuk yang pernah ku
alami. Aku membuka mata dan melihat sekeliling kamar, kamarku masih rapi dengan
meja cantik dan peralatan belajarku diatasnya. Makeup, parfum, cermin, buku,
tempat pensil, gunting, origami.. Semua masih lengkap. Aku takut, aku sangat
takut, aku memeluk ka Razki yang duduk disamping kasurku. Ia memelukku dengan
erat, aku dapat merasakan hangat tubuhnya. ‘Aku
tidak mati kak…’ Aku berbisik ke telinganya dengan mata yang basah. ‘Oh, Riska… Itu hanya mimpi.. dan kini saat
sesungguhnya.’ – The end
NB : Ohya
sebenernya parfum itu ngga ada hubungannya sama cerita diatas, Cuma sebagai
pengecoh aja oke.. Merknya Vi*alis yang biru, aromanya enak harum, bisa dibeli
di supermarket terdekat :D
Komentar
Posting Komentar