Bintang dan Laut
Karya : Skizera Amalia (Rara)
Inspired by Donny Candra
Karya : Skizera Amalia (Rara)
Inspired by Donny Candra
Kala itu panas matahari
membakar para turis pantai sedangkan Bintang Laut asyik bermain dengan teman
temannya; Kerang, Penyu, Bulu babi dan Ikan Pari. ‘Ayo main petak umpet!’ seru Kerang. ‘Hompimpa alaium gambreng, pak camat pake baju rombeng, pit alaipit
kuda lari kejepit’ ‘YAK Bulu babi yang jaga, ayo sembunyii!!’. Kerang dan
Ikan Pari terbang lalu mengubur dirinya dalam pasir, lalu Penyu mencoba masuk
ke dalam rerumbunan tanaman laut, sedangkan bintang laut mencoba bersembunyi
didalam karang namun tetap terlihat. Satu persatu mereka ditemukan, dan
mengulangi permainan itu lagi sekiranya lima kali lagi. Matahari terlihat sudah
hampir terpeleset menandakan malam segera tiba. Mereka berlari kerumah masing
masing. ‘BOOM!!!’ suara ledakan itu membuat mereka berlari lebih
kencang, terkecuali Bintang Laut. Bukannya ke rumah, ia malah berlari kearah
ledakan itu. Pasir berhamburan tepat di tempat persembunyiannya tadi. Perlahan
ia mendekat dan menemukan sesuatu yang mirip dengannya tapi terlalu terang tuk
dipandang. Ya, itu Bintang dari langit yang baru saja terjatuh. ‘Uhuk uhuk aww
sakit’ teriaknya saat Bintang Laut membantu ia melepas diri dari karang itu. ‘Apa
kau baik baik saja? Namaku Bintang Laut.’ Kata Bintang Laut serambil
menyodorkan tangannya. ‘ Bintang, dari angkasa bukan laut’ jawab Bintang
ditambah senyum ramah pada wajahnya, membuat sinarnya semakin terang. Mereka
berjalan menuju rumah Bintang Laut dengan perlahan.
Pagi tiba dan tiba tiba makanan
favorit Bintang Laut sudah tersedia, dan rumahnya juga sangat bersih. Ia
menyangka masih mimpi tapi ternyata itu ulah Bintang, yang bisa mengabulkan
apapun hanya dengan sinarnya. Hari itu adalah awal hari baru bagi mereka
berdua, hari yang biasa itu akhirnya dipenuhi oleh cerita Bintang dan
angkasanya, lalu Bintang Lautpun bercerita tentang ajaibnya lautan. Satu hal
yang paling diingat oleh Bintang Laut adalah alasan Bintang jatuh. ‘Kamu tahu tentang bintang yang paling
terang yang paling cepat redup?’ tanyanya. Bintang Laut memasang wajah
penuh tanda tanya serambil menggelengkan kepalanya. ‘Bintang bersinar karna ada pembakaran helium dan hydrogen, itu bahan
bakarnya. Semakin kuat dan besar pembakaran bahan bakar itu, dia bakal semakin
bersinar. Dan, bintang yang paling cemerlang akan menjadi yang paling cepat
redup. Dan kemudian mati. Itusih, aturan semesta.’ ‘Ya, seperti yang kau
lihat.. aku terjatuh saat pembakaran terbesar terjadi ditubuhku.’ Lanjutnya.
Bintang Laut tak berkedip seolah takjub sekaligus bingung karna masih mencerna akan
apa yang dikatakan Bintang. Kemudian giliran Bintang Laut yang bercerita
tentang sebuah masalah dalam laut yang luar biasa ini, bagaimana makan dan
dimakan, lahir dan mati, bahkan teganya manusia dengan semua sampah yang
dibuangnya. Bintang Laut yang tidak bisa berbuat apa apa, bahkan mungkin hanya
bisa larut pada kesedihan seperti mengutuk dirinya sendiri. Bintang Laut yang
awalnya tertutup dan takut ditertawakan Bintang tentang kelemahannya, akhirnya
bercerita pada Bintang tentang semuanya. Satu hal yang dikatakan Bintang ‘It’s a coffee with a rainbow moods’. Seolah
Bintang tau pasti apa yang dilewati Bintang Laut dan memberinya saran terbaik
dengan cara yang baik pula. ‘Pengalaman
itu tumbuh bersama kehidupan. Dan kedewasaan itu tumbuh bersama rasa sakit.
Mereka yang paling sering merasakan sakit, adalah mereka yang paling bijak akan
kehidupan.’ Sekiranya itu saran terbaik darinya pada sore itu. Tanpa sadar
hari sudah gelap dan Bintang bersinar seperti biasanya. Bintang Laut mengajak
Bintang ke sebuah pulau kecil untuk melihat teman teman Bintang diatas sana.
Persahabatan mereka dimulai pada hari biasa itu.
Hari demi hari mereka jalani,
Bintang Laut masih menyembunyikan kehadiran Bintang karena takut teman temannya
akan berfikiran aneh. Dan pada hari hari itu, mereka selalu bercerita tentang
arti kehidupan dan pengalaman serta tujuan hidup mereka. Sampai suatu hari,
Bintang Laut melihat raut Bintang yang kesepian dan ia mengajak Bintang untuk
pergi keluar menemui Kerang dan yang lainnya. ‘Perkenalkan ini teman baruku, dia dari angkasa dan dia akan bersinar
saat malam tiba.’ Ujar Bintang laut didepan teman temannya. ‘Perkenalkan aku Bintang, semoga kita bisa
menjadi teman baik.’ Sapa Bintang ditambah senyum serta sinarnya. ‘Woah, hai aku Kerang’. ‘Hallo, aku yang
punya rumah berjalan namaku Penyu.’. ‘Kalau aku ikan pari, dan aku siap menjadi
taximu untuk mengelilingi lautan.’ Hari itu mereka main petak umpet seperti
biasanya, dan tambah satu personil yaitu Bintang.
Keesokkan harinya Bintang Laut
bangun dan tidak dapat menemukan Bintang dirumahnya, ia panik. Sampai akhirnya
Ia menemukan Bintang sedang bermain dengan teman barunya. Dengan tertawa kecil
Bintang Laut pulang ke rumah dan menyiapkan makan untuk Bintang. Begitulah
rutinitas baru Bintang Laut. Pernah sekali waktu Bintang Laut ikut bermain
tetapi malah dilupakan dan berakhir dengan pulang sendirian kerumah. Rasa aneh
yang tidak biasa, Bintang Laut merasa sakit padahal tidak ada luka pada
tubuhnya. Setelah menyadari kehadirannya tak lagi dihiraukan, mungkin karna
tertutup bintang yang sinarnya begitu terang. Bintang Laut memutuskan untuk
pergi ke pulau kecil itu, tapi alangkah kagetnya Bintang Laut saat menemukan
ada manusia disana. ‘Uhm, hai manusia..
Apa yang kau lakukan disini?’ Tanyanya dengan ragu. ‘Ya seperti yang kau lihat, sama seperti dirimu bukan? Melarikan diri
karna tak bisa menerima kenyataan.. Bahwa memang kita kan slalu terbuang, kan?’
jawaban manusia itu membuat Bintang Laut mengeluarkan air mata tanpa ia sadari.
Bintang Lautpun bercerita tentang semuanya pada manusia. ‘Aku tau aku tak bersinar, aku tak punya kekuatan super, dan aku bahkan
tak bisa membahagiakan teman temanku seperti yang dilakukan Bintang. Aku bukan
apa apa. Haha mana pernah aku terlihat didepan Bintang yang bersinar begitu
terangnya. Mana pernah ku dianggap. Berharap menjadi sahabat Bintang paling
terang adalah mimpi terbodohku, ia sudah pasti punya teman yang jauh lebih baik
dan lebih banyak dari aku disana. Aku hanya mirip tapi aku bahkan tak bisa
bersinar.. tak bisa membahagiakan temanku.. sepertinya.. Ia terlalu terang, aku
tak lagi memiliki teman. Aku tak lagi spesial dimatanya. Atau malah tidak akan
pernah.’ Begitulah curhatan Bintang Laut yang dilanjutkan dengan tangisan tersedu.
Namun tiba tiba ‘Tuhan takkan memberikan
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, dan aku yakin kamu
sanggup melewati ini, Bintang’ Perkataan manusia ini akhirnya meredakan
tangisan Bintang Laut dan akhirnya ia kembali ke lautan, kerumahnya.
Setiba dirumahnya, ia menemukan
Bintang terbaring lemas tanpa cahaya sedikitpun. ‘Kurasa ia sekarat, lalu kita harus apa?’ Tanya Penyu pada Bintang
Laut yang baru datang. Ia kaget bukan main, dan langsung tersungkur sambil memegang
tangan Bintang. Setelah yang lain pulang karna hari sudah gelap, Bintang
terbangun dan berkata pada Bintang Laut bahwa inilah saatnya. ‘Terimakasih karena sudah menemani hari hari
terakhirku, Bintang Laut tercantik yang pernah ku temui.’ Kata katanya tak
mampu membendung keringat dimatanya yang akhirnya tumpah juga. ‘Hey, ingat.. It’s a coffee with a rainbow
moods. However, it still a rainbow. Sesuatu yang indah menunggu diujung sana,
kau harus selalu mengejarnya, harus ceria seperti dulu. Biarkanlah yang pergi
akan pergi, karna yang baru pasti kan datang kembali. Dan satu hal pasti,
terimakasih telah menjadi sahabatku. Aku menyayangimu, Bintang Laut.’.
Malam itu, adalah malam terburuk dalam hidupnya. Ia tak bersinar, bahkan sangat
rapuh bagaikan abu yang kalau tersentuh kan jadi debu. Bintang Laut mengurung
dirinya dalam kamar dan menangisi kepergian Bintang. Sehari seminggu bahkan
sebulan berlalu, Bintang Laut akhirnya ditemukan lemas tak berdaya karena tidak
bisa makan apapun saat masa dukanya. Namun tiba tiba ia mengingat semua kata
kata Bintang dan Manusia. Hingga pagi itu, ia memutuskan melanjutkan hidupnya.
Betapa senang bukan kepalang teman temannya melihat ia kembali ceria.
Tahun tahun bahagia berlalu,
meskipun ada masalah yang lebih besar dari masa lalunya ia tetap bisa
melewatinya. Semua berkat Tuhan, dan kata kata dari Bintang dan Manusia itu
yang selalu membangkitkannya. Tiba saat ia sudah sangat renta, tua dan tak
berdaya. Semua anak dan cucunya menemani Bintang Laut itu hingga nafas
terakhirnya. Tepat sore itu Bintang Laut meninggalkan semua pengalamannya.
Malam pun tiba. Langit terlihat
lebih cerah dari biasanya, mungkin karna awan sedang bermain petak umpet.
Bintang bersinar terang, bercanda ria dengan temannya. Bulan yang sendirian
ikut tertawa melihat tingkah para bintang yang lucu dan konyol itu. Tiba tiba
bulan dikagetkan dengan kehadiran bintang baru. ‘Selamat datang Bintang Tercantik’ Senyum bulan diwajahnya yang
banyak cekungan menyambut. ‘Um.. Aku,
seharusnya sudah mati, tapi kenapa jadi disini? Apa yang…’ belum sempat ia
melanjutkan ceritanya, Bintang paling terang lari kearahnya dan memeluknya
dengan erat. ‘Ini kau! Ini benar benar
kau Bintang Laut tercantik yang pernah kukenal!’ ‘Bintang?’ Tanya bintang
cantik itu yang akhirnya menimbulkan suhu malam lebih hangat akan tangis haru
mereka semua. Mereka kembali bermain, bercanda tawa, bertingkah konyol setiap
harinya. Hingga Bintang yang paling terang itu kembali jatuh ke bumi. Membuat
bintang lainnya sedih karena ialah yang paling terang. Dan saat itu, Bulan
berkata pada semuanya. ‘It’s a coffee
with a rainbow moods. Ini yang terbaik, kalian tau kan? Mari sini kita berikan
sinar terbaik untuk Bintang dibawah sana’ dan akhirnya mereka tertidur
dalam pelukan bulan. Tak terkecuali Bintang tercantik. ‘ Aku yakin, aku akan menemukanmu lagi. Aku juga menyayangimu, Bintang
paling terang’ bisiknya pada malam
terdingin itu. Lebih dingin karena awan menangis. Tapi lebih hangat dari rasa
kehilangan mereka malam itu.
–The End
Mantull✨
BalasHapus